Kamis, 19 Februari 2009

trilogi pengembaraanku

diantara langkah jam
serangga malam
dan angin yang berusaha menembus gorden
aku hanyut dalam kerinduan

laju otakku kencang membedah asa dan mimpi
hingga sampai pada sebuah sungai
alurnya telah lama kukenali

kesangsian suka tidak suka memaksaku
diam
untuk pasrah pada sang Mutlak

______________________________________________

dalam waktu yang mungkin sama
disana engkau pun seperti aku
diam dalam rindu
menghitung banyak ketidakpastian
bertabrakan dengan perasaan
bergumam seolah mengeluh
merintih pada yang maha Hak
kemudian dalam rasa letih
dan sedikit sisa tenaga
menatap lembar-lembar gambar
bisu
sepi
(mungkin mimpi menjawab keresahan..?)

__________________________________________

(suatu ketika dalam hidupku)
dengan bekal seadanya
kutawarkan rencana sederhana
pada seorang
yang kuharap adalah belahan jiwa
yang dalam dirinya kudapati segala kerinduanku
yang dalam dirinya kuharap mimpi jadi realita

ku sadari hukum dunia
didalamnya kefanaan berkuasa
dan hati selalu berubah keinginannya
tapi bukankah ada niat mulia
mengembalikan yang rusak menjadi indah

aku tidak tahu
di detik kapan semua berpihak padaku

Senin, 16 Februari 2009

nasehat yang baik

Ketika melihatnya di YM dan tidak menyapaku, aku sadar telah terjadi kesalahan dalam hubungan persahabatan kami. mengingat segala kebaikannya kepadaku sebelum adanya perselisihan itu membuatku merasa bersalah dan menjadi susah sendiri karena begitu banyak ilmu yang masih ingin kutimba dari dia. Sejenak aku perpikir dan mencoba introspeksi atas semua ini.
Berawal dari keinginannya memberiku sebuah nasehat yang kemudian ditengah perbincangan kami, aku merasa seolah-olah dia tahu segala hal dan sifatku hingga kemudian aku membuat kesalahan dengan memotong pembicaraannya dan dengan nada kurang suka atas apa yang dia ingin katakan aku memintanya untuk tidak meneruskan nasehat itu dan akibat dari perselisihan itu dia tidak lagi hangat seperti dulu.
Sampai kini aku tidak tahu apakah dia masih marah dan kesal padaku atau sudah melupakan kejadian itu, kuharap dia mau memaafkan aku dan mau menerimaku sebagai sahabatnya kembali.
Berawal dari kejadian itu akupun mencoba mempelajari lebih dalam tentang makna dan hakikat dari nasehat agar di kemudian hari aku bisa lebih dewasa dan bisa menerima segala bentuk nasehat dan teguran yang diberikan oleh orang-orang ingin melihatku menjadi lebih baik.

Kalimat nasehat berasal dari kata "nasaha" yang arti awalnya adalah menambal atau menjahit dari pakaian yg sobek. Seseorang yang mau menerima nasehat berarti dirinya mau untuk diperbaiki dan ditambal kekurangannya. Semakin banyak nasehat yang masuk semakin bagus seharusnya watak seseorang karena dia setiap saat telah menerima tambalan dalam "pakaiannya".
berkaitan dengan nasehat, Nabi saw pun bersabda:

Dari Abi Amer atau Abi Amrah Abdullah, ia berkata, Nabi saw. bersabda, “Agama itu adalah nasehat.” Kami bertanya, “Untuk siapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, untuk Kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk para pemimpin umat Islam dan orang-orang biasa.” (HR. Muslim)

“Hak seorang muslim pada muslim lainnya ada enam: jika berjumpa hendaklah memberi salam; jika mengundang dalam sebuah acara, maka datangilah undangannya; bila dimintai nasehat, maka nasehatilah ia; jika memuji Allah dalam bersin, maka doakanlah; jika sakit, jenguklah ia; dan jika meninggal dunia, maka iringilah ke kuburnya.” (HR. Muslim)

Rasulullah saw. yang mulia mengatakan, “Tiga perbuatan yang termasuk sangat baik, yaitu berzikir kepada Allah dalam segala situasi dan kondisi, saling menyadarkan satu sama lain, dan menyantuni saudara-saudaranya (yang memerlukan).” (HR. Adailami)

Agar sebuah nasehat bisa diterima dan bermanfaat hendaknya sang pemberi nasehat mengerti apa yang akan disampaikannya dan yang paling penting adalah niat dan tata cara dalam memberikan nasehat, diantaranya adalah:
~Mencari keridhaan Allah
karena nasehat merupakan perbuatan mulia tentu saja harus didasari dengan keikhlasan semata-mata karena mencari keridhaan Allah SWT.
~Menyampaikan dengan cara yang sopan dan baik
sering terjadi nasehat yang diberikan tidak dengan cara yang baik dan terkesan menggurui malah berakibat salah paham dan saling merendahkan.
~Mencari waktu yang tepat dalam memberikan nasehat
perbedaan sifat, karakter dan masalah mengharuskan seseorang yang ingin memberikan nasehat benar-benar pintar mencari waktu yang tepat. Alangkah lebih baik jika memberi nasehat pada orang yang minta untuk dinasehati dan sebaik-baiknya nasehat bukanlah dengan lisan tapi dengan perbuatan.

Qulil Haqqo Walau Kaana Murron…
"katakan yang benar walaupun pahit", seringkali hanya karena merasa memberikan nasehat yang benar kita tidak mengindahkan cara yang baik. jika apa yang akan kita katakan itu akan terdengar pedas atau terasa pahit maka janganlah mengutarakannya dengan cara yang pahit juga

“Sesungguhnya tidaklah kelembutan itu ada pada sesuatu, kecuali pasti menghiasinya.

Dan tidaklah kelembutan itu hilang dari sesuatu, kecuali akan menjelekkannya.”
(HR. Muslim )

semoga tulisan ini bisa memperbaiki sifatku dan juga persahabatanku dengannya

Jumat, 13 Februari 2009

Pelipur ku

Jika ada yang bertanya "apa kebahagiaan yang setiap hari kutemui?" maka ku jawab " hal yang membuatku bahagia setiap hari adalah menghabiskan waktu dengan tiga keponakanku. Mereka ratu-ratu kecil di rumahku. Yang kepolosannya selalu membuatku tertawa dan sejenak menghapus kegalauan yang sering melanda hatiku saat ini.
Seperti kemarin, saat aku baru pulang dari tempatku bekerja walaupun kondisiku cape dan hati sedang tidak dalam kondisi nyaman tapi melihat para ratu-ratu kecil itu berlari menyambut dan mencium tanganku membuat segala beban tadi hilang sejenak. Hal yang selalu mereka lakukan bila akan berangkat sekolah ataupun saat pulang dari belajar mengaji, dan kebetulan jam pulang kerjaku bertepatan dengan pulangnya mereka dari belajar mengaji dirumah tetangga. Setelah mengusap kedua kepala mereka ( kebiasaan yang kulakukan setelah mereka mencium tanganku), kini giliran menggendong keponakan yang paling kecil, masih bayi dan lagi lucu-lucunya. Berempat, kami pun bermain dan bercanda sampai lupa kalau perut belum di isi dari siang. Oh ya , sekedar bocoran..diantara kami berempat aku yang paling ganteng lho...(huekekeh..pasti dunk, lha wonk keponakanku ini cewek semua)
Selesai bermain kini saatnya bagi-bagi rezeqi. Upah kerjaku sebenarnya kecil tapi jika kebetulan ada sisa setelah di potong pengeluaran, kubagikan pada mereka. Terkadang aku tidak langsung memberikannya, tapi meminta imbalan jasa tenaga mereka alias minta dipijitin. Tangan-tangan yang mungil dan empuk itu jelas kurang bertenaga tapi bukan itu inti dari acara "pijit plus" ini, hal yang ingin aku bagikan dengan mereka adalah kasih sayang, saling kedekatan dan kebersamaan ( duh ko' jadi sok berwibawa dan tua banget yach - eh sebenarnya aku memang sudah "uzur" cuma kebetulan belum dapat jodoh..!!). Sambil menikmati pijatan tangan-tangan mungil ini kami saling bercerita, atau kalau para ibu mereka mengeluh tentang kenakalan para ratu kecil ini maka kesempatan ini kugunakan untuk memberikan nasehat dan sedikit pemahaman pada mereka ( ck..ck..ck..sok arif dan bijaksana yach..hehehe..)
Melihat wajah-wajah polos mereka aku jadi teringat kalau dulu aku ikut sibuk menunggu tangis pertama mereka mengudara, ikut mengganti popok di tengah malam dan bahkan mengeloni mereka juga. Aku sangat menyayangi mereka dan mereka pun bangga memiliki paman sepertiku. "...awas ta' bilangin adhex!!" (ucapan ini sering kudengar manakala ada anak-anak kecil lain yang usil bila para keponakanku sedang asyik bermain di samping rumah.
Nah ceritanya sudah selesai, sebagai penutup berikut nama-nama tokoh yang berperan dalam cerita tadi: Adhex (paman yang merasa baik hati), Ripah (ponakan yang paling gede,7thn), Zulfah (ponakan yang hobi nonton sinetron dan suka tari, 6thn), Curis (ponakan yang masih bayi, 6bln), di bantu para ibu-ibu (para mbakyu, lin dan lan). dikarenakan inti cerita tadi adalah saya dan para keponakan maka para bapak-bapaknya terpaksa tidak dilibatkan, juga masih ada tiga keponakan lagi yang belum muncul di cerita, mereka adalah Yahya (2thn, tinggal di ibukota negara republik indonesia bersama orang tuanya), dan dua ponakan yang masih menyempurnakan tapanya di dalam rahim ibunya masing-masing).

Rabu, 11 Februari 2009

kenangan ttg dia

Hari cerah dengan sinar matahari yang masih terbit sepenggal siang, Aku sedikit mempercepat langkah karna kulihat dari beberapa meter disana KCR datang,aku memburu daripada harus menunggu beberapa menit lagi. Setelah membeli tiket di mesin otomatis yang tersedia,tepat KCR berhenti dan membuka pintu, aku segera masuk.
Aku bersandar tepat di besi pegangan dekat pintu,karna banyak penumpang pagi itu,di station berikutnya KCR berhenti menurunkan/menaikkan penumpang."ach" lega penumpang berkurang banyak.dan aku bisa duduk di bangku dengan nyaman. Baru saja kududukkan pantatku,ada seorang bapak tua tak kebagian tempat duduk.
"Lei jo' a!" aku mempersilahkan duduk.
"Emkosai lei a" jawabnya.
Akupun berdiri lagi,tepat disisiku kulirik ada seorang yang dari tadi memperhatikanku,yakin dia pasti orang indonesia,aku tak sungkan menatapnya. Dia tersenyum.."Indo ya?" tanyanya singkat.
Aku hanya tersenyum dan menganggukkan kepala."Mo kemana?" tanyaku bingung mo manggil Mbak ato apa,aku tahu persis dia wanita,tapi tomboy abis,bahkan tak kalah macho dengan playboy di kampungku!he..he..
"Ga tau!"seraya mengangkat pundaknya. "kamu?" tanyanya dingin.
"kemana aja" jawabku tak kalah beku.
Kamipun sama2 turun di station yang sama!berjalan ke arah yang sama. Setelah beberapa meter kemudian, aku di kejutkan seseorang yang mendampratnya tiba2.
"Bajingan kamu! ini to lontemu itu?" teriak perempuan di depan kami. Aku langsung mengira itu pasti "bojo"nya.{istilah para lesbian}
"Iya! kamu mau apa? jangan ganggu aku lagi! karna aku juga tak mengganggumu!" Cewek tomboy itu langsung menggaet tanganku dan membawaku berlalu. Aku tak sempat bicara apapun, aku hanya bisa memandang cewek yang di sana menangis sesenggukan!
"Jangan urus dia!" Cewek tomboy yang baru kukenal beberapa menit lalu itu, seolah jadi"cowok"bagiku. Aku hanya salangtingkah,aku tak berani menyinggungnya.
Setelah beberapa saat, dia melepas genggamanya, aku tersenyum padanya sambil memegangi lenganku yang agak panas karena geganggamanya yang keras.
"Maaf ya.." Dia menghela nafas berat, kulihat kelelahan di relung matanya, dia hanya diam dan menyandarkan di tubuhnya di tembok toilet yang kebetulan kami lewati. Aku tak tahu persisi masalahnya, tapi aku sedikit bisa menebaknya.
"Gak ada acara, mau libur denganku?" ajakku memecah suasana. Entah kenapa aku tak ingin meninggalkanya, walau tadi sempat membuatku agak sebel juga!
"Ok! kemana?" tanyanya menatapku tajam.
"mmm...ada dech!" sengaja kubuat penasaran. Akhirnya dia mengangguk dan mengikutiku.
Aku mengajaknya bermain sepatu roda di tempat khusus permainan itu,aku sewa dua sepatu tanpoa tanya dia setuju apa nggak! aku menyerahkan sepasang sepatu itu padanya.
"Hah? aku ga bisa Nda!" Dia agak kegi, dan memanggilku "Nda" {Dinda} aku hanya tersenyum aja.
"Pake aja, aku ajari, kita belajar bersama! belajar berdiri bila kita jatuh! belajar keseimbangan!" celotehku. diapun manut.
Sesampai di arena..dia yang sama sekali tak pernah bermain sepatu roda, sudah pasti jatuh bangun, dan mukanya sempat memerah, dan sesekali mengucap"umpatan}.lalu berniat melepaskan sepatu itu.
"Kau ingin kalah? Kau tak ingin mencobanya?" kataku sedikit meledeknya.
"Sapa takut! asal kamu mau bantu aku bangun jika jatuh!" jawabnya enteng. Hmm..kena! batinku.
Setengah hari kami larut dalam jeritan,tawa,dan selingan umpatan2nya! Setelah kelelahan, dan perut terasa sudah sangat lapar, kami menyudahi permainan itu, kulihat Dia masih semangat dengan permainan barunya! tapi dia mengikutiku aja. Tanpa banyak bicara, aku langsung mengajaknya ke MC DONALD, Dia ngikut saja.
Sampe pada acara makan itulah, aku leluasa menatapnya, dan dia sedikit agak kebingungan. Entah apa yang ada di otaknya, yang pasti aku ingin sekali mengenalnya.
" Makasih ya!" tiba2 dia bersuara.
"Tentang apa?" selidikku.
"mmhh..kalau tidak kau ajak ke sini tadi, aku pasti sudah teler di diskotik"
"Mang kenapa? bukankah itu biasa bagimu? knapa kau ucap trimakasih? apakah permainan tadi menyenangkanmu?"
Dia hanya menghela nafas, diam,dan menerawang kekejauhan di luar sana dari balik kaca bening.
"Apa yang kau inginkan dari hidupmu? sepertinya kau menginginkan sesuatu?" tanyaku sok tahu.
"mmhh.. iya! aku ingin kembali ke keadaanku dulu!"
"Maksudnya?" aku pura2 tak tahu.
" Sudahlah! lupakan! makasih hari ini, nice to meet you" Dia berdiri dan mengulurkan tanganya. Aku sedikit kaget,jangan2 dia tersinggung denganku? Aku ulurkan saja tanganku menjabat tangannya.
Dia berlalu meninggalkanku di meja makan itu dengan sejuta tanda tanya,dan kekagumanku atas sikapnya, humbergernya tak dia sentuh sedikitpun,Aku mendongokkan pandanganku kebawah dari balik kaca di dekatku, aku lihat dia berjalan menyeberang,aku hanya tersenyum lagi mengingatnya. Tak sempat tahu namanya,tak sempat tahu no hpnya.

Setelah lama tak tahu kabarnya, aku sempat sering berpikir. "kemana dia ya?". tapi minggu kemaren aku bertemu dia, Dia memelukku,bahkan kulihat di sudut matanya mulai berair. Aku sempat tak percaya, dan mencoba mengingat2 siapa dia, Dia telah berubah! 180 drajat, kepalanya terbalut jilbaba warna hitam, wajahnya yang dulu tirus, sekarang sedikit berisi,dulu yang tatapan matanya dingin, kini penuh pesona,dan senyumnya sangat indah, setelah aku yakin "cowok jejadian" dulu itu, akupun memeluknya erat sekali! ku ucapkan SELAMAT padanya.
"Makasih ya" kembali ucapan itu keluar dari bibirnya.

Selasa, 10 Februari 2009

Uwais al-Qarny

Keutamaan Uwais al-Qarny

Dia, jika bersumpah demi ALLAH pasti terkabul. Pada hari kiamat nanti ketika semua ahli ibadah dipanggil disuruh masuk surga, dia justru dipanggil agar berhenti dahulu dan disuruh memberi syafa'at, ternyata Allah memberi izin dia untuk memberi syafa'at sejumlah qobilah Robi'ah dan qobilah Mudhor, semua dimasukkan surga tak ada yang ketinggalan karenanya. Dia adalah "Uwais al-Qarni". Ia tak dikenal banyak orang dan juga miskin, banyak orang suka menertawakan, mengolok-olok, dan menuduhnya sebagai tukang membujuk, tukang mencuri serta berbagai macam umpatan dan penghinaan lainnya.

Seorang fuqoha' negeri Kuffah, karena ingin duduk dengannya, memberinya hadiah dua helai pakaian, tapi tak berhasil dengan baik, karena hadiah pakaian tadi diterima lalu dikembalikan lagi olehnya seraya berkata, "Aku khawatir, nanti sebagian orang menuduh aku, dari mana kamu dapatkan pakaian itu, kalau tidak dari membujuk pasti dari mencuri".

Biografi

Pada zaman Nabi muhammad SAW, ada seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan, kulitnya kemerah-merahan, dagunya menempel di dada selalu melihat pada tempat sujudnya, tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, ahli membaca Al-Qur’an dan menangis, pakaiannya hanya dua helai sudah kusut yang satu untuk penutup badan dan yang satunya untuk selendangan, tiada orang yang menghiraukan, tak dikenal oleh penduduk bumi akan tetapi sangat terkenal di langit.

Pemuda dari Yaman ini telah lama menjadi yatim, tak punya sanak famili kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh. Hanya penglihatan kabur yang masih tersisa. Untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing. Upah yang diterimanya hanya cukup untuk sekedar menopang kesehariannya bersama Sang ibu, bila ada kelebihan, ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya.

Kesibukannya sebagai penggembala domba dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta, tidak mempengaruhi kegigihan ibadahnya, ia tetap melakukan puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya.

Uwais al-Qarni telah memeluk Islam pada masa negeri Yaman mendengar seruan Nabi Muhammad SAW. yang telah mengetuk pintu hati mereka untuk menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tak ada sekutu bagi-Nya. Islam mendidik setiap pemeluknya agar berakhlak luhur.

Peraturan-peraturan yang terdapat di dalamnya sangat menarik hati Uwais, sehingga setelah seruan Islam datang di negeri Yaman, ia segera memeluknya, karena selama ini hati Uwais selalu merindukan datangnya kebenaran. Banyak tetangganya yang telah memeluk Islam, pergi ke Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi Muhammad SAW secara langsung. Sekembalinya di Yaman, mereka memperbarui rumah tangga mereka dengan cara kehidupan Islam.

Alangkah sedihnya hati Uwais setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka itu telah "bertamu dan bertemu" dengan kekasih Allah penghulu para Nabi, sedang ia sendiri belum. Kecintaannya kepada Rasulullah menumbuhkan kerinduan yang kuat untuk bertemu dengan sang kekasih, tapi apalah daya ia tak punya bekal yang cukup untuk ke Madinah, dan yang lebih ia beratkan adalah sang ibu yang jika ia pergi, tak ada yang merawatnya.

Di ceritakan ketika terjadi Pertempuran Uhud Rasulullah SAW mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya. Kabar ini akhirnya terdengar oleh Uwais. Ia segera memukul giginya dengan batu hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada beliau SAW, sekalipun ia belum pernah melihatnya. Hari berganti dan musim berlalu, dan kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk bertemu tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, kapankah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah beliau dari dekat?

Tapi, bukankah ia mempunyai ibu yang sangat membutuhkan perawatannya dan tak tega ditingalkan sendiri, hatinya selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa. Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi menziarahi Nabi SAW di Madinah. Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya.

Beliau memaklumi perasaan Uwais, dan berkata, "Pergilah wahai anakku! temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang". Dengan rasa gembira ia berkemas untuk berangkat dan tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi.

Sesudah berpamitan sambil menciumi sang ibu, berangkatlah Uwais menuju Madinah yang berjarak kurang lebih empat ratus kilometer dari Yaman. Medan yang begitu ganas dilaluinya, tak peduli penyamun gurun pasir, bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari, semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras baginda Nabi SAW yang selama ini dirindukannya. Tibalah Uwais al-Qarni di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi SAW, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah sayyidatina 'Aisyah r.a., sambil menjawab salam Uwais.

Segera saja Uwais menanyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata beliau SAW tidak berada di rumah melainkan berada di medan perang. Betapa kecewa hati sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak berada di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi SAW dari medan perang.

Tapi, kapankah beliau pulang ? Sedangkan masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman," Engkau harus lekas pulang".

Karena ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi SAW. Ia akhirnya dengan terpaksa mohon pamit kepada sayyidatina 'Aisyah r.a. untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi SAW dan melangkah pulang dengan perasaan haru.

Sepulangnya dari perang, Nabi SAW langsung menanyakan tentang kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni langit (sangat terkenal di langit). Mendengar perkataan baginda Rosulullah SAW, sayyidatina 'Aisyah r.a. dan para sahabatnya tertegun. Menurut informasi sayyidatina 'Aisyah r.a., memang benar ada yang mencari Nabi SAW dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama.

Rasulullah SAW bersabda : "Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya." Sesudah itu beliau SAW, memandang kepada sayyidina Ali bin Abi Thalib k.w. dan sayyidina [[Umar bin Khattab] r.a. dan bersabda, "Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah do'a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi".

Tahun terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi SAW wafat, hingga kekhalifahan sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. telah di estafetkan Khalifah Umar r.a. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi SAW. tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kepada sayyidina Ali k.w. untuk mencarinya bersama. Sejak itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu menanyakan tentang Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama mereka.

Diantara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya yang terjadi sampai-sampai ia dicari oleh beliau berdua. Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka.

Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan kafilah menuju kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman, segera khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka. Rombongan itu mengatakan bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, beliau berdua bergegas pergi menemui Uwais al-Qorni.

Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. memberi salam. Namun rupanya Uwais sedang melaksanakan sholat. Setelah mengakhiri shalatnya, Uwais menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada ditelapak tangan Uwais, sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi SAW. Memang benar! Dia penghuni langit. Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut, siapakah nama saudara ? "Abdullah", jawab Uwais.

Mendengar jawaban itu, kedua sahabatpun tertawa dan mengatakan, "Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?" Uwais kemudian berkata, "Nama saya Uwais al-Qorni".

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali k.w. memohon agar Uwais berkenan mendo'akan untuk mereka.

Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah, "Sayalah yang harus meminta do'a kepada kalian". Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata, "Kami datang ke sini untuk mohon do'a dan istighfar dari anda".

Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qorni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdo'a dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar r.a. berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata, "Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi".

Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam tak terdengar beritanya. Tapi ada seorang lelaki pernah bertemu dan di tolong oleh Uwais, waktu itu kami sedang berada di atas kapal menuju tanah Arab bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin topan berhembus dengan kencang. Akibatnya hempasan ombak menghantam kapal kami sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat. Pada saat itu, kami melihat seorang laki-laki yang mengenakan selimut berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu kami memanggilnya. Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan sholat di atas air.

Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu. "Wahai waliyullah," Tolonglah kami!" tetapi lelaki itu tidak menoleh. Lalu kami berseru lagi, "Demi Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami!" Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata,

"Apa yang terjadi ?"

"Tidakkah engkau melihat bahwa kapal dihembus angin dan dihantam ombak?" tanya kami.

"Dekatkanlah diri kalian pada Allah!" katanya.

"Kami telah melakukannya."

"Keluarlah kalian dari kapal dengan membaca bismillahirrohmaani rrohiim!"

Kami pun keluar dari kapal satu persatu dan berkumpul di dekat itu. Pada saat itu jumlah kami lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam, sedangkan perahu kami berikut isinya tenggelam ke dasar laut.

Lalu orang itu berkata pada kami ,"Tak apalah harta kalian menjadi korban asalkan kalian semua selamat". "Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah nama Tuan ? "Tanya kami.

"Uwais al-Qorni". Jawabnya dengan singkat.

Kemudian kami berkata lagi kepadanya, "Sesungguhnya harta yang ada dikapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim oleh orang Mesir."

"Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah kalian akan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah?" tanyanya.

"Ya, "jawab kami. Orang itu pun melaksanakan sholat dua rakaat di atas air, lalu berdo'a. Setelah Uwais al-Qorni mengucap salam, tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami menumpanginya dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, kami membagi-bagikan seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tidak satupun yang tertinggal.

Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais al-Qorni telah pulang ke Rahmatullah.

Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya.

Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.

Dan Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan, "ketika aku ikut mengurusi jenazahnya hingga aku pulang dari mengantarkan jenazahnya, lalu aku bermaksud untuk kembali ke tempat penguburannya guna memberi tanda pada kuburannya, akan tetapi sudah tak terlihat ada bekas kuburannya. (Syeikh Abdullah bin Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qorni pada masa pemerintahan sayyidina Umar r.a.)

Meninggalnya Uwais al-Qorni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak dihiraukan orang.

Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, "Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qorni? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya siapa "Uwais al-Qorni" ternyata ia tak terkenal di bumi tapi terkenal di langit.

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
http://id.wikipedia.org/wiki/Uwais_Al-Qarny